Mungkin ada yang seneng (karena partai dukungan dia menang), ada yang sedih (karena partai dia kalah), dan yang paling sedih tentunya caleg yang gak kepilih (ntar sedihnya pas hasil akhir diumumkan). Saya sendiri, sedih. Karena pemilu sekarang saya lihat pemilu yang paling rumit dalam riwayat pemilu yang saya alami.
Saya melihatnya pemilu sekarang pemilu yang paling boros. Gak peka terhadap krisis. Bayangkan pemerintah boros ngiklan, hampir semua departemen ngiklan (entah buat siapa itu). Parpol ngiklan, juga dengan biaya yang gak sedikit. Coba kalau uang itu dimanfaatkan ke sektor real, tentu lebih bermanfaat.
Mending mana coba, iklan sekolah gratis yang entah apa itu tujuannya, dengan membangun sekolah yang udah hampir roboh? Mending mana iklan koperasi (yang sampai berapa mentri coba yang ikutan iklan), dengan menambah modal koperasi petani misalnya.
Sekarang semua ngiklan demi pencitraan. Saya tidak menunjuk ke Pak SBY ya, kalau Anda menyimpulkan demikian sih terserah. Tapi intinya pemilu sekarang boros! Dan boros itu mendekati mubazir, sia-sia kalau dalam bahasa umumnya. Silahkan artikan sendiri, kira-kira yang suka membuat hal-hal yang mubazir itu mengikuti pekerjaannya siapa coba?
Dosa KPU!
KPU masih punya dosa soal DPT. Dan itu dosa besar, jangan dianggap remeh. Anda semua harus minta maaf sama pemilih yang kehilangan haknya karena tidak terdaftar di DPT.
KPU juga harus berterimakasih sama semua petugas KPPS yang sudah membantu pelaksanaan pemilu sampai beres. Dari malem sampai malem lagi kerjaan mereka tuh. Tapi kok saya tidak mendengar kata-kata maaf dan terimakasih itu ya?
Yang saya dengar hanyalah pembelaan sepihak, “Tidak ada pemilu yang sempurna” Tutur ketua KPU.
Duh, mo dibawa kemana negeri ini?
